Macam Jenis Motif
Batik, Makna dan Daerah Asalnya
Batik Klasik
Batik tradisional memiliki makna yang filosofis yang
berasal dari kepercayaan para pembuatnya, yaitu masyarakat Jawa. Batik seperti
ini memiliki keindahan secara visual dan secara filosofi. Umumnya batik ini
mengandung warna-warna gelap yang memancarkan wibawa dan
keseriusan.

Kumpulan motif klasik, umumnya didominasi warna cokelat.
Keindahan visual adalah rasa haru, rasa terpukau yang
datang dari panca indera pengelihatan manusia. Yang mana datangnya dari harmoni
perpaduan berbagai warna dan sususan berbagai bentuk.
Sedangkan keindahan filosofi adalah pemahaman akan
pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui torehan-torehan pada sebuah karya.
Yang membentuk suatu arti atau lambang sesuai dengan pemahaman dan harapan
pembuatnya.
Daerah yang menghasilkan batik klasik adalah Solo,
Yogyakarta, Sragen dan Semarang. Berikut adalah motif-motif yang berasal dari
beberapa daerah tersebut.
Batik Sido Luhur
Sido dalam bahasa Jawa artinya “telah terlaksana”
atau “jadi”. Sehingga arti kasarnya adalah menjadi luhur. Ini mencerminkan
sebuah harapan bahwa pemakainya dapat mencapai kehidupan yang luhur, terhormat
dan bermartabat. Serta selalu sehat secara jasmani dan Rohani

Batik Sido Luhur
Batik Sido Mukti
Motif batik ini sering digunakan pada acara
pernikahan. Makna filosofis di dalamnya adalah kemakmuran, serta harapan agar
seseorang dapat mencapai kebahagian lahir dan batin.
Batik Sido Mulyo
Kalau tadi Sido Luhur itu artinya menjadi pribadi yang
luhur, maka Sido Mulyo adalah batik yang memberikan sebuah harapan agar
seseorang mencapai kemuliaan. Karena artinya adalah menjadi mulia.
Namun dibalik itu, batik ini sebenarnya dimaksudkan
agar seseorang mencapai harapan akan kemakmuran serta perlindungan. Batik ini
juga kerap digunakan dalam banyak pernikahan, dengan harapan kelak keluarga
baru ini akan menjadi keluarga yang sukses dan mendapatkan kemuliaan. Berat
sekali maknanya Bung!

Batik Sido Mulyo
Batik Cuwiri
Batik ini kerap digunakan untuk memperingati usia bayi
dalam kandungan yang sudah mencapai 7 bulan (Mitoni). Cuwiri itu artinya
kecil-kecil. Filosofi di dalamnya adalah harapan agar sejak kecil seseorang
sudah memiliki nilai-nilai kebaikan, sehingga dihormati oleh masyarakat.

Batik Cuwiri
Batik Kawung
Mungkin anda tidak tau apa itu buah Kawung. Kalau
kolang-kaling tau? Inilah asal muasal batik ini menurut beberapa sumber. Ada
juga yang berpendapat bahwa batik ini terinspirasi dari binatang Kwangwung atau
yang biasa disebut dengan kumbang tanduk.

Batik Kawung
Makna batik ini adalah sebuah penggambaran hati yang
bersih. Bahwa itikad dari hati yang bersih itu merupakan sebuah ketetapan
hati yang tidak perlu diketahui oleh orang lain.
Makna yang berasal dari filosofi buah Kawung, yang
memiliki buah berwarna putih bening didalamnya. Kalau mau tau lebih detail
silahkan cek artikel kami tentang batik Kawung.
Batik Tambal
Konon kisahnya, batik ini dapat memberikan kesembuhan
bagi orang yang sedang sakit. Filosofi batik ini adalah harapan agar seseorang
yang sedang sakit segera sehat, dan kerusakan pada dirinya dapat segera
diperbaiki.
Maknanya juga berarti seseorang yang selalu
memperbaiki diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik lahir dan batin.
Batik Tambal
Batik Truntum
Batik ini juga merupakan sebuah batik yang kerap
digunakan pada acara pernikahan. Namun batik ini tidak digunakan oleh mempelai,
melainkan dipakai oleh orang tua kedua calon pengantin. Kenapa kira-kira?
Karena truntum sendiri artinya adalah menuntun.
Sehingga diharapkan orang tua kedua calon pengantin dapat memberikan tuntunan
yang baik kepada kedua mempelai dalam menjalani lembaran hidup baru keluarganya.

Batik Truntum
Batik Parang
Parang itu berasal dari kata pereng, yang
berarti lereng. Saya sendiri selama ini mencoba mencari mana sih bentuk
parangnya? Ternyata yang dimaksud bukan senjata parang. Pereng
menggambarkan garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.
Batik ini memiliki pola seperti huruf S yang
berkesinambungan. Motif ini terinspirasi dari karang yang kokoh diterpa ombak,
melambangkan semangat yang tidak pernah padam. Motif ini juga melambangkan
kekuasaan.

Batik Paran
Jaman dulu, motif batik Parang tidak boleh digunakan
oleh sembarang orang. Hanya para anggota kerajaan dan kerabat yang boleh
memakainya. Besar dan kecilnya motif parang menandakan kedudukan sosial
pemakainya di dalam lingkungan kerajaan. Keren banget ya?
Kalau anda lihat, batik parang milik Sir Thomas
Stamford Raffles itu bermotif Parang dengan ukuran besar-besar. Wah, berarti
Mas Raffles sudah merupakan orang terpandang di lingkungan kerajaan Jawa saat
itu.
Jenis batik Parang ada beberapa. Ada Parang Rusak,
Parang Barong, Parang Kusumo dan lain-lain. Tergantung dari daerah asalnya.
Batik Grompol
Grompol dalam bahasa Jawa bisa bermaksud berkumpul
atau menjadi satu. Seperti Gerombol. Filosofi dibalik motif batik ini adalah
harapan orang tua terhadap anaknya, dimana semua hal yang baik dapat berkumpul.
Seperti kebahagiaan, rejeki, kerukunan dan ketentraman.

Batik Grompol
Apabila digunakan pada sebuah pernikahan, maka batik
Grompol ini melambangkan harapan agar keluarga yang baru terbentuk dapat selalu
terus bersama dan bersatu. Selalu mengingat keluarga asal mereka kemanapun
mereka pergi.
Batik Pesisir
Batik Pesisir berbeda dengan batik klasik. Batik jenis
ini lebih bebas dari segi motif, tidak kaku. Dari segi warna, batik Pesisir
lebih warna-warni dari batik klasik. Melambangkan kemandirian dan jiwa
yang penuh dengan kebebasan. Hal ini disampaikan dalam bentuk motif dan
warnanya.
Warna dan gambar yang ditorehkan pada batik pesisir
lebih cerah, lebih mencolok, lebih berani dibanding batik klasik. Berikut
adalah beberapa contoh batik pesisir.
Batik Lasem
Batik ini sering disebut-sebut sebagai batik encim.
Memang di Lasem banyak sekali penduduk orang Tionghoa. Lasem adalah sebuah
kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tempat ini berbatasan dengan Laut
Jawa Utara.

Batik Lasem
Lasem dikenal dengan sebutan “Tiongkok kecil” karena
merupakan sebuah kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa.
Konon katanya, warna merah pada batik Lasem tidak
dapat ditiru oleh pengrajin batik dari daerah lain. Karena disana menggunakan
olahan kulit mengkudu yang dicampur dengan kayu untuk menghasilkan warna
merahnya.
Dulu, batik Lasem hanya digunakan oleh wanita
keturunan Tionghoa yang sudah berusia lanjut. Pengaruh bangsa Cina sangat
kental terasa pada batik Lasem, dari warna merah, sampai gambar Naga, Phoenix
dan huruf-huruf Cina. Sungguh indah sekali batik Lasem ini.
Batik Cirebon
Ciri khas batik dari Cirebon adalah motif Megamendung,
atau bisa juga disebut awan-awanan. Motif Megamendung adalah hasil akulturasi
budaya Tiongkok yang dikembangkan seniman batik Cirebon sesuai dengan selera
masyarakat Cirebon yang mayoritas beragama Islam.

Batik Megamendung
Batik Cirebon mulai berkembang ketika pelabuhan Muara
Jati menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berasal dari Tiongkok,
Arab, Persia dan India. Pernikahan antara Sunan Gunung Jati dengan putri Ong
Tien merupakan peristiwa yang mengawali akulturasi budaya Tiongkok dan budaya Jawa
Keraton.
Dulu sekali, motif megamendung ini hanya digunakan
oleh anggota Keraton saja. Sekarang sampai karyawan sampai anak sekolahpun
boleh pakai.
Batik Belanda & Eropa
Para penjajah Belanda memiliki pengaruh yang kuat pada
motif batik pesisir. Contohnya adalah motif batik Little Red Riding Hood yang
mana motif ini menggambarkan cerita folklor dari Perancis, dan pada masa itu
disukai oleh para penajajah Belanda. Batik ini populer pada tahun 1840 –
1940 di Indonesia.

Batik Red Riding Hood
Ternyata orang Eropa itu suka sekali lho dengan batik.
Sir Thomas Stamford Raffles yang berasal dari Inggris tertarik sekali dengan
budaya batik sampai-sampai ia mengirimkan banyak sekali kain batik ke Inggris
untuk dibuat secara massal.
Namun istilah batik Belanda sendiri terlahir karena
seorang wanita yang bernama Carolina Josephina Franqemont, seorang perempuan
keturunan Indonesia dan Belanda. Desain khasnya yang disukai oleh masyarakat
Eropa umumnya bermotif karangan bunga dan dongeng Eropa.
Batik Pekalongan
Merupakan batik yang sangat kaya akan warna.
Pekalongan adalah kota batik di Indonesia, bahkan mereka memiliki museum
batiknya sendiri. Banyak sekali pengrajin batik yang bermukim di kota
Pekalongan, hingga ke pinggiran kota.
Bahkan, setiap kampung di Pekalongan memiliki ciri
khasnya sendiri yang berbeda dengan kampung lain. Padahal sama-sama Pekalongan.
Batik Pekalongan ini merupakan salah satu jenis batik
dengan kualitas terbaik. Desain batik Pekalongan terpengaruhi oleh beberapa
kultur dan bangsa seiring dengan sejarah Indonesia, dari Tiongkok, Belanda dan
Jepang. Hal ini membuat batik Pekalongan sangat istimewa dan selalu berkembang
sesuai jaman.
Salah satu batik yang sangat indah berasal dari
Pekalongan, yaitu batik Hokokai. Pada saat penjajahan Jepang lahirlah
batik Hokokai, batik yang sangat indah gambar dan motifnya. Terdiri dari
bunga-bunga dan kupu-kupu. Sedangkan kainnya apabila dibentangkan, akan terbagi
menjadi dua, yaitu motif pagi dan sore. Kalau anda tertarik dengan batik Hokokai baca artikelnya yaa.

Batik Hokokai
Batik ini mengikuti selera penjajah Jepang pada saat
itu. Dimana para pengrajin dipaksa membuat batik sesuai selera orang Jepang
tanpa dibayar. Karena banyaknya perampasan pada jaman itu, harga kain Mori
untuk membuat batik menjadi sangat mahal.
Sehingga dibuatlah sistem pagi dan sore, yang mana
dalam sehari seorang perempuan bisa menggunakan sehelai kain saja. Tidak perlu ganti-ganti.
Karena bagian atas kain gambarnya lebih terang sehingga bisa digunakan pagi
hari, dan saat kain dibalik, motifnya cenderung lebih gelap sehingga bisa
digunakan malam hari. Sehingga lebih menghemat pengeluaran.
Batik Kontemporer
Batik jenis ini tidak lekang oleh motif-motif yang
sudah ada. Disebut juga batik modern. Biasanya motif kontemporer dibuat
oleh brand-brand batik anak muda. Sehingga sumber inspirasinya tidak melulu
melihat dari masa lalu, atau yang sudah ada.
Inspirasi ini bahkan bisa datang dari budaya luar,
atau kehidupan para pemuda jaman sekarang. Pemoeda.co.id sendiri memiliki
batik tipe "Signature" yang dibuat untuk kegiatan-kegiatan casual.

Motif kontemporer cenderung memiliki warna-warna yang
berani, atau desain yang tidak seperti batik pada umumnya. Sehingga pada
aplikasinya, batik jenis ini bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang non-formil.
Malah bisa aneh jika digunakan untuk acara yang formal.
Motif Batik
Keraton
Batik Kraton pada awalnya tidak bisa dipakai oleh
rakyat biasa. Khusus Sultan dan keluarganya saja yang leluasa untuk memakainya.
Itu karena sebelumnya proses pembuatan batik ini dikerjakan oleh orang-orang
kraton saja.
Namun akhirnya peraturan itu dihapus dan sampai saat
ini motif batik kraton dapat dinikmati oleh setiap orang.
Motif batik Keraton mengandung nilai yang
berkaitan dengan penciptaan, penggunaan, dan penghargaan apa yang dimilikinya.
Menggunakan pola tumbuhan yang banyak berkembang di kraton jawa. Sedangkan
dalam pewarnaan batik yang mengagumkan tersebut memadukan matra seni, pandangan
hidup, adat, dan lingkungan di dalam keraton.
3. Motif
Batik Sidoluhur
Motif batik Sidoluhur ini mempunyai makna keluhuran.
Setiap orang Jawa beranggapan bahwa tujuan hidup adalah untuk mencapai
keluhuran materi dan non materi.
Keluhuran materi berarti kebutuhan raga yang tercukupi
dengan jalan yang benar. Sedangkan keluhuran non materi adalah pencapaian
disaat bisa dipercaya oleh orang lain.
Motif batik Sidoluhur ini mempunyai makna bahwa orang
tidak hidup untuk dirinya sendiri, namun dia juga hidup untuk keluarga,
lingkungan, masyarakat, dan Tuhan yang menciptakannya.
4. Motif
Batik Jepara
Motif batik Jepara memiliki dua macam motif, yaitu
motif lama dan motif baru. Motif batik yang lama mempunyai warna lung hitam,
dengan gajah berwarna coklat, dan daun ulir berwarna hijau.
Sedangkan motif batik Jepara yang baru mempunyai lebih
banyak variasinya. Banyak orang menyebut batik ini adalah batik Kartini, sesuai
nama pahlawan nasional yang berasa dari kota Jepara.
5. Motif
Batik Kawung
Kawung dalam bahasa Sunda mempunyai arti buah aren
atau kolang-kolang kaling. Jadi motif batik kawung menyerupai buah
kolang-kaling yang dibelah melintang sehingga terlihat motif 4 biji. Dan
biasanya digunakan untuk pengantin putrid.
6. Motif
Batik Lereng/Liris
Batik ini memiliki motif pokok garis-garis miring yang
sejajar. Dan biasanya diantara garis-garis miring tersebut ditambahkan motif
tambahan seperti bunga, daun, titik, dan yang sejenisnya untuk menambah esensi
keindahan.
7. Motif
Batik Tumpal
Motif Batik ini mempunyai bentuk dasar segitiga
sama kaki. Dan didalamnya terdapat motif bunga untuk menambah nilai seninya.
Biasanya motif ini digunakan sebagai pelengkap saja dan dikenakan pada
pinggiran selendang atau jarik.
8. Motif
Bati Sekar Jagad
Motif batik yang sangat khas diIndonesia. Dilahirkan
di dua kota yang terkenal akan seninya di Jawa, Solo dan Yogyakarta. Sekar
Jagad mempunyai makna kecantikan dan keindahan bagi setiap orang yang melihatnya.
Nama ini diambil dari kata ‘’Kar Jagad’’ dari bahasa
Jawa. Kar berarti peta, dan Jagad berarti dunia. Sehingga dilambangkan sebagai
keragaman di seluruh dunia.
Ada juga yang mengartikan bahwa Sekar Jagad asalnya
dari kata Sekar yang diartikan bunga dan Jagad sebagai Dunia. Dua arti ini
saling menggambarkan bahwa makna dari batik Sekar Jagad berarti keindahan dan
keanekaragaman bunga di seluruh penjuru dunia.
9. Motif
Batik Meru
Siapa yang tak kenal dengan Mahameru. Gunung ini
kabarnya merupakan tempat tinggal bagi Tri Murti. Trimurti melambangkan segala
kehidupan, kemakmuran, dan kebahagiaan hidup di dunia. Oleh karena itu untuk
mendapatkan kemakmuran dan kebahagian maka dibuatlah batik Meru.
Corak batik Meru biasanya berupa tanaman yang dipadu
dengan bunga. Mempunyai dasar dengan warna yang agak tua seperti kuning tua
atau orange. Batik dengan motif Meru biasanya digunakan pada pengantin wanita
di Yogyakarta.
10. Motif
Batik Gurda
Gurda atau burung Garuda merupakan burung yang menjadi
lambang bangsa Indonesia. Masyarakat jawa meyakini burung garuda mempunyai
kedudukan yang cukup penting dalam kehidupan.
Bentuk motif Gurda terdiri dari dua sayap dan
ditengahnya terdapat badan dan ekor. Dan motif ini dibuat berdasarkan atas
kepercayaan masyarakat di masa lalu dimana burung garuda mempunyai simbol
kehidupan dan juga simbol kejantanan.
11. Motif
Batik Parang Rusak Barong
Berasal dari kata batu karang dan barong (singa).
Memiliki filosofi kuat sebagai parang yang paling besar dan agung. Oleh karena
itu motif ini hanya boleh digunakan oleh raja, terutama untuk acara keagamaan
dan meditasi.
Penciptanya adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma yang telah
mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja yang memenuhi tugas dan
kewajibannya dan sadar bahwa beliau merupakan manusia kecil di hadapan Sang
Pencipta.
Kata barong berarti besar dan ini tercermin pada
ukuran motif pada kain dan motif ini merupakan induk dari semua motif batik
parang.
12. Motif
Batik Parang Kusuma
Motif batik ini mempunyai makna yang cukup dalam yaitu
bahwa hidup harus dilandasi dengan perjuangan untuk mencari kebahagiaan baik
lahir maupun batin, seperti keharuman bunga(kusuma). Seperti kebaikan pribadi
tanpa harus meninggalkan norma yang berlaku di masyarakat.
13. Motif
Batik Udan Liris
Motif ini mengandung makna tabah dalam menjalani
kehidupan walau dilanda panas dan hujan silih berganti. Ibarat pengantin baru
yang harus tabah terhadap segala rintangan yang menghadapi, tidak boleh
mengeluh, dan harus bisa diselesaikan bersama-sama.
14. Motif
Batik Truntum
Pencipta batik ini adalah Kanjeng Ratu Kencana, Permaisuri
dari Sunan Paku Buwana III. Mempunyai makna cinta yang tumbuh kembali.
Diciptakan sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin
lama semakin berkembang.
Motif batik Truntum ini biasanya dipakaikan kepada
orangtua pengantin pada saat hari pernikahan. Harapannya adalah agar cinta
kasih milik orangtua yang tumoruntum akan dirasakan juga oleh kedua mempelai.
15. Motif
Batik Slobog
Slobok mempunyai arti lobok atau longgar. Kain ini
biasanya dipakai untuk melayat, mempunyai tujuan agar orang yang meninggal
tidak mendapatkan kesulitan disaat menghadap kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam batik Slobog ini mempunyai prinsip-prinsip yang
kuat tentang keagamaan bahwa manusia setelah mengalami kematian akan hidup lagi
dan mengalami kehidupan yang berbeda di kehidupan lain, yaitu berjumpa dengan
Tuhan Yang Maha Esa.
16. Motif
Batik Tambal
Motif batik tambal diumpamakan sebagai menambal atau
memperbaiki hal-hal yang rusak pada kehidupan manusia. Bahkan pada zaman dahulu
motif batik ini sering digunakan pada orang sakit sebagai selimut untuk upaya
kesembuhan.
Motif batik ini biasanya diambil dari motif batik
ceplok, para, hingga motif peru yang didesain kembali menjadi desain
kotak-kotak. Sedangkan warnanya merupakan paduan dari warna gelap dan terang
yang menandakan seperti ada tambalan pada motif itu sendiri.
17. Motif
Batik Ciptoning
Motif batik ciptoning biasanya dipakaikan ke orang
tertua di keluarga atau kepada seorang pemimpin adat. Mempunyai makna dan
tujuan agar pemakainya menjadi seorang pemimpin yang benar, mampu memberikan
petunjuk jalan yang benar terhadap orang yang dipimpinnya.
18. Motif
Batik Pari Kesit
Motif batik ini mempunyai makna bahwa untuk
mendapatkan keutamaan harus dibarengi dengan usaha keras dan juga kegesitan
dalam pengerjaan. Dan juga dalam melaksanakannya tidak boleh menyimpang dari
norma-norma yang ada pada masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar